Menurut Survei: di Asia Tenggara, Netizen Indonesia Paling Tidak Sopan

Menurut Survei: di Asia Tenggara, Netizen Indonesia Paling Tidak Sopan thumbnail
liputan6.com

Survei Digital Civitily Index 2020 menunjukkan bahwa netizen indonesia menjadi warganet yang paling tidak sopan dibangian Asia Tenggara.

Survei ini dibuat oleh Microsoft ini menujukkan interaksi online, salah satunya masalah kesopanan pengguna internet.

Dalam survei ini, netizen indonesia mendapatkan peringkat ke 29 dari 32 Negara yang disurvei.

Artinya netizen Indonesia menjadi salah satu warganet yang paling buruk dalam berintraksi online.

Sedangkan yang menjadi peringkat teratas adalah Singapura yaitu peringkat keempat secara global dan teratas di Asia Tenggara.

Menurut Liz Thomas selaku Regional Digital Safety Lead, Asia-Pacific Microsoft, mengatakan bahwa kesponan digital ini sangat penting karena meningkatkan kesadaran dan mendoroang intraksi positif secara online.

Microsoft pun memberikan pertanyaan kepada ribuan responden usia dewasa dan remaja dari puluhan negara tentang paparan risiko online yang berada diantara empat kategori.

Yang meliputi prilaku, esksual, reputasi dan pribadi. Totalnya lebih dari 16 responden dari 32 negara yang berpastisipasi dan sebanyak 503 orang indenesia mengikuti survei ini.

Skor Netizen Indonesia


Microsoft memberlakukan skor 0 sampai 100 dalam survei ini. Semakin rendah skornya artinya paparan risiko onlinenya semakin rendah.

Sehingga tingkat kesponanan di internet di negara tersebut di simpulkan semakin tinggi.

Dalam laporan DCI 2020, Microsoft menemukan bahwa bahwa tingkat kesopanan netisen Indeonesia semakin memburuk dibandingkan tahun ini.

Skor DCI yang dimiliki Indonesia untuk kaum remaja tidak berubah. Namun mengalami penurunan 16 skor untuk kalangan dewasa.

Netizen Indonesia pun dinilai memiliki sejumlah risiko internet terbesar pada isu hoax dan penipuan yang naik hingga 13%.

Sedangkan ujaran kebencian naik 5% sementara diskriminasi turun 2%.

4 dari 10 responden menilai bahwa kesopanan menjadi lebih baik selama pandemi. Sementara 5 dari 10 orang mengaku terlibat pelaku bullying dan 19% mengaku sebagai target.